URGENSI PENDEWASAAN USIA PERKAWINAN

Oleh KUA Purwokerto Timur
SHARE

Purwokerto Timur, “Praktik pernikahan dini tetap marak, sedangkan angka perceraian, kekerasan dalam rumah tangga makin tinggi, oleh karena itu pemerintah merevisi batas usia minimal perkawinan di Indonesia melalui UU Nomor 16 Tahun 2019. Ketetapan batas usia minimal 19 tahun untuk calon pengantin, dan apabila kurang hanya bisa dilaksanakan pernikahan dengan dispensasi dari Pengadilan Agama”, demikian kata Taufiq Hidayatulloh, SHI selaku nara sumber pada kegiatan Sosialisasi pendewasaan Usia Perkawinan di SMKN I Purwokerto (7/9/21).

Acara yang diselenggarakan oleh Dinas pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Banyumas tersebut bekerjasama dengan SMKN I Purwokerto diikuti oleh 35 peserta.

Pernikahan dini memiliki sejumlah dampak buruk, khususnya bagi perempuan dan anak-anak , seperti kesehatan reproduksi, ekonomi maupun pendidikan. Namun, jumlahnya justru meningkat di Indonesia selama pandemi Covid-19.

Dr. Yufana Dewanti mengatakan bahwa kehamilan di usia remaja berpotensi meningkatkan risiko kesehatan pada wanita dan bayi. Ini karena sebenarnya tubuh belum siap untuk hamil dan melahirkan.

“Wanita yang masih muda masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Jika ia hamil, maka pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya akan terganggu. Biasanya kondisi yang muncul akibat hamil di usia muda seperti darah tinggi, anemia, bayi lahir prematur dan resiko kematian bagi ibu,” katanya.

Pernikahan usia dini biasanya sering menyebabkan kesehatan mental wanita terganggu. Ancaman yang sering terjadi adalah wanita muda rentan menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan mereka belum tahu bagaimana cara terbebas dari situasi tersebut.

“Belum adanya kesiapan mental pasangan yang menikah dalam menjalani bahtera rumah tangga menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga sering terjadi. Selain istri, anak dalam pernikahan dini juga berisiko menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga”.

Sedangkan Achmad Pratama selaku Bidang Kesiswaan SMKN I Purwokerto menyatakan bahwa penyebab maraknya pernikahan dini antara lain karena kondisi psikologis pada masa puber dengan dorongan keingintahuan yang sangat besar, faktor pergaulan, dan ekonomi.

“Pada masa pubertas, remaja selalu inggin mencoba sesuatu, berekspresi dan mempunyai rasa penasaran yang sangat tinggi, sementara media sosial sangat besar pengaruhnya terhadap pergaulan bebas remaja, sedangkan pengawasan orangtua terhadap anaknya sangat lemah” lanjutnya.

Di tempat terpisah Kepala KUA Pruwokerto Timur mengatakan bahwa terhadap pendaftar nikah yang usianya belum 19 tahun maka akan disampaikan surat penolakan pernikahan.

“Calon pengantin yang belum berusia 21 tahun juga harus melampirkan surat ijin dari orang tua sedangkan yang belum berusia 19 tahun akan diberikan surat penolakan pernikahan dan bisa mendaftar nikah kembali setelah mendapatkan surat ijin dari Pengadilan Agama” kata Yudhy Bachtiar Tri Putro, SH (gie)