ASN KUA PURWOKERTO TIMUR MEMBAHAS KEGIATAN SAMBIL TADABBUR ALAM

Oleh KUA Purwokerto Timur
SHARE

Purwokerto Timur, FPAI bersama ASN KUA Purrwokerto Timur melaksanakan kegiatan silaturahmi dan membahas kegiatan bersama sembari menyelenggarakan kegiatan Tadabbur Alam di Telaga Kumpe Gununglurah, Ahad (6/6/21).

Kegiatan yang diikuti oleh ASN KUA Purwokerto Timur dan Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam tersebut merupakan agenda tahunan FKPAI sebagai ajang silaturahmi sekaligus evaluasi kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan.

“Kegiatan Tadabbur Alam ini kita laksanakan dengan tujuan untuk menjalin silaturahim antara keluarga ASN KUA dan FKPAI Kecamatan Purwokerto Timur sekaligus membahas laporan dan program kegiatan tahunan” kata M Yusuf S.Ag,M.HI selaku ketua Forum.

Menurut Yusuf kegiatan tadabbur Alam sangat bermanfaat bagi penyuluh karena suasana alam yang jernih dan indah akan membuat perasaan hati menjadi refresh, sekaligus menumbuhkan rasa syukur kepada Allah. “Tadabbur Alam sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah menciptakan alam beserta isinya yang penuh keindahan dan penyejuk mata”.

Kegiatan Tadabbur alam kali ini mengunjungi Telaga Kumpe Desa Gunung Lurah Kec. Cilongok. Telaga Tumpe memiliki keasrian alam yang eksotis yang dikelilingi dengan perbukitan hijau dan suasana alam khas pedesan yang begitu indah, menyegarkan mata dan dapat menghapus kepenatan hati dari aktivitas keseharian.

Berada di ujung utara Kecamatan Cilongok , dengan waktu tempuh + 35 menit dari Kota Purwokerto, Telaga Kumpe dengan permukaan air masih jernih dan alami ini terdapat perahu kecil yang bisa disewa untuk menjelajah sepanjang bibir telaga. Di tengah telaga tersebut ada pulau, juga ditemui berbagai jenis ikan sehingga menambah eksotisme taman air tersebut.

Menurut Tohiron S.Ag. M.PdI selaku tokoh masyarakat Desa Gununglurah,Telaga Kumpe berasal singkatan dari kata “dikum dan dipe” yang artinya direndam dan dijemur. Dikum karena sebagian akar tanaman yang ada di telaga tersebut berada di bawah air, sementara daunnya berada di atas air yang terkena panas matahari seolah dipe (dijemur). “Hingga sekarang tanaman itu masih disebut sebagai ‘Kumpe’ yang memiliki tangkai keras seperti pohon nanas dan juga menyerupai lidah buaya”, katanya.

Menurut Ketua RW di Gununglurah tersebut konon tanaman tersebut menyatu bersama cerita mistisnya sejarah Telaga Kumpe. Cerita legenda yang berkembang, telaga tersebut terbentuk dari kaki Bima atau Wekudara dalam cerita pewayangan. Saat itu, Bima hendak meletakkan Gunung Slamet sebagai paku tonggak Pulau Jawa. Saat membawa gunung itu, Bima menghadap ke arah timur laut dan posisi kanannya berada di Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, sedangkan kaki kirinya ada di Kaligua, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. Karena merasa terlalu berat membuat kakinya menginjak terlau dalam hingga akhirnya membentuk telaga di kedua kakinya. Antara mitos atau fakta, bentuk di telaga ini menyerupai bentuk kaki dengan tumit berada di sebelah selatan dan jemari di sebelah utara. Karena tertutup oleh tanaman Kumpe, maka bentuk kaki ini tidak terlihat.

Telaga Kumpe ini juga memiliki aura religius karena wilayah tersebut dikelilingi oleh sejumlah petilasan, seperti Bukit Krangenana yang merupakan tempat petilasan. “Ada petilasan Mbah Sapu Jagad dan petilasan Tabat Waru yang diyakini sebagai penjaga telaga. Kemudian ada petilasan Telaga Nangka, Rantansasi dan Watu Rajut yang merupakan makam sesepuh desa Gununglurah”. Kata owner Cafe Pondok Dukuh tersebut.

Yudhy Bachtiar Tri Putro,SH menyampaikan bahwa kegiatan tadabbur alam akan meningkatkan kebersamaan dalam melaksanakan tugas, menumbuhkan etos kerja sekaligus meningkatkan produktivitas.

“ASN dituntut inovatif dalam melaksanakan tugas, dan tadabbur alam sangat tepat dilaksanakan karena dapat mempererat silaturahmi, sebagai media refreshing dan imbasnya dapat meningkatkan hasil kinerja “.(gie)